Viral Jembatan Darurat Aceh Tengah, Warga Bayar Rp30.000 Sekali Menyebrang

Jasasosialmedia.com – Sudah satu bulan berlalu sejak bencana alam melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah, namun hingga kini warga masih harus bergantung pada jembatan darurat untuk beraktivitas sehari-hari. Jembatan tersebut menjadi akses penghubung antarwilayah setelah jembatan utama rusak parah akibat bencana. Kondisi ini menimbulkan kesulitan tersendiri bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada jalur tersebut untuk bekerja, bersekolah, dan memenuhi kebutuhan ekonomi.

Jembatan darurat yang terbuat dari konstruksi sederhana itu bangun secara swadaya dan bersifat sementara. Meski membantu mobilitas warga, keberadaannya jauh dari kata ideal. Selain sempit, jembatan tersebut hanya bisa terlalui secara terbatas dan membutuhkan pengaturan khusus agar tetap aman gunakan.

Biaya Menyebrang Jadi Beban Tambahan Warga

Salah satu persoalan yang paling terasa masyarakat adalah adanya biaya untuk menyebrang jembatan darurat tersebut. Warga dikenakan tarif sekitar Rp30.000 untuk sekali menyeberang. Biaya ini umumnya gunakan untuk perawatan jembatan dan upah penjaga yang membantu mengatur lalu lintas serta memastikan keselamatan pengguna.

Bagi sebagian warga, terutama petani dan pedagang kecil, biaya tersebut terasa cukup memberatkan. Dalam sehari, ada warga yang harus bolak balik menyebrang untuk bekerja atau berdagang, sehingga pengeluaran bertambah signifikan. Kondisi ini berdampak langsung pada pendapatan mereka yang sudah menurun sejak bencana terjadi.

Meski demikian, banyak warga mengaku tidak memiliki pilihan lain. Jika tidak melewati jembatan darurat, mereka harus menempuh jalur memutar dengan jarak yang jauh dan waktu tempuh yang lebih lama. Hal ini membuat jembatan darurat tetap menjadi akses utama meskipun biayanya relatif mahal.

Harapan Warga Aceh Perbaikan Jembatan Permanen

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat segera mempercepat pembangunan kembali jembatan permanen. Keberadaan jembatan yang layak dinilai sangat penting untuk memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat pascabencana. Selain itu, jembatan permanen harapkan dapat mengurangi risiko kecelakaan yang sewaktu-waktu bisa terjadi pada jembatan darurat.

Beberapa tokoh masyarakat setempat menyampaikan bahwa warga siap mendukung proses pembangunan, baik dengan gotong royong maupun menjaga kelancaran proyek. Mereka berharap perhatian pemerintah tidak hanya berhenti pada penanganan darurat, tetapi juga berlanjut pada pemulihan infrastruktur jangka panjang.

Hingga saat ini, warga masih bertahan dengan kondisi yang ada sambil menunggu kepastian pembangunan. Jembatan darurat menjadi simbol ketahanan masyarakat Aceh Tengah dalam menghadapi bencana, namun juga menjadi pengingat bahwa pemulihan infrastruktur sangat mendesak agar kehidupan warga dapat kembali berjalan normal.