Viral Event Baku Tumbuk Di Parepare Dinilai Legalkan Kekerasan
Jasasosialmedia.com – Viralnya sebuah acara bertajuk Baku Tumbuk di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, memicu polemik di tengah masyarakat. Acara yang mempertontonkan aksi saling pukul antar peserta ini ramai dibicarakan di media sosial setelah sejumlah video memperlihatkan duel fisik yang lakukan secara terbuka di hadapan penonton. Banyak warganet menilai kegiatan tersebut berbahaya dan berpotensi melegalkan kekerasan.
Istilah baku tumbuk sendiri dalam konteks budaya lokal sering maknai sebagai adu kekuatan atau adu nyali. Namun, ketika praktik tersebut terkemas sebagai sebuah event terbuka dan konsumsi publik luas, muncul kekhawatiran bahwa nilai edukasi dan keselamatan justru terabaikan. Perdebatan pun muncul antara pihak yang menganggapnya sebagai hiburan dan pelestarian budaya, dengan pihak yang menilai acara ini sebagai bentuk normalisasi perkelahian.
Baku Tumbuk, Antara Budaya Dan Sensasi
Sebagian pihak mencoba membela acara Baku Tumbuk dengan alasan budaya dan tradisi lokal. Mereka berpendapat bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk ekspresi keberanian dan adu ketangkasan yang telah lama terkenal di masyarakat. Dalam pandangan ini, baku tumbuk anggap mirip dengan olahraga bela diri tradisional yang menekankan kekuatan fisik dan mental.
Namun, kritik muncul karena acara tersebut tidak sertai dengan standar keselamatan yang jelas. Tidak terlihat penggunaan alat pelindung yang memadai, wasit profesional, maupun aturan baku sebagaimana olahraga resmi. Akibatnya, publik menilai kegiatan ini lebih condong pada sensasi semata demi menarik perhatian, bukan sebagai upaya pelestarian budaya yang bertanggung jawab.
Dinilai Melegalkan Kekerasan
Kekhawatiran terbesar dari viralnya event ini adalah anggapan bahwa Baku Tumbuk secara tidak langsung melegalkan perkelahian. Ketika aksi saling pukul pertontonkan dan bahkan mendapat sorakan penonton, hal ini khawatirkan membentuk persepsi bahwa kekerasan adalah sesuatu yang wajar, bahkan menghibur.
Psikolog dan pemerhati sosial menilai tontonan seperti ini berpotensi berdampak buruk, terutama bagi anak-anak dan remaja. Mereka bisa meniru perilaku tersebut tanpa memahami risiko cedera serius atau konsekuensi hukum. Apalagi jika acara ini terus promosikan tanpa narasi edukatif, pesan yang terima publik bisa menjadi keliru.
Peran Pemerintah Dan Kesadaran Publik
Polemik Baku Tumbuk di Parepare seharusnya menjadi perhatian pemerintah daerah dan aparat terkait. Regulasi yang jelas perlukan agar setiap kegiatan publik tidak melanggar norma hukum, keselamatan, dan nilai kemanusiaan. Jika memang ingin kembangkan sebagai olahraga atau budaya, maka harus ada pengawasan, standar keamanan, serta pembinaan yang tepat.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menyikapi fenomena viral. Tidak semua konten yang ramai bagikan layak untuk terus promosikan. Kesadaran kolektif diperlukan agar hiburan tidak mengorbankan keselamatan dan nilai moral. Viral boleh saja, namun tetap harus berpijak pada tanggung jawab sosial.