Media Sosial Dinilai Berbahaya, Warga RI Dukung Pembatasan Anak

Jasasosialmedia.com – Survei terbaru menunjukkan 87 persen masyarakat Indonesia setuju anak-anak dilarang bermain media sosial. Angka ini disebut sebagai yang tertinggi di dunia. Hasil survei ini memicu perdebatan luas di ruang publik, terutama soal perlindungan anak di era digital.

Banyak orang tua menilai media sosial membawa lebih banyak risiko dari pada manfaat bagi anak. Kekhawatiran muncul soal kecanduan gawai, paparan konten negatif, dan gangguan kesehatan mental. Sikap tegas masyarakat ini mencerminkan keresahan yang sudah lama terasakan.

Alasan Orang Tua Setuju Pembatasan Medsos

Mayoritas responden menilai anak belum siap menghadapi dunia digital. Media sosial dinilai terlalu bebas dan sulit dikontrol. Konten kekerasan, pornografi, dan ujaran kebencian mudah temukan. Orang tua juga khawatir pada dampak psikologis. Banyak kasus anak mengalami stres, cemas, dan rendah diri akibat media sosial. Perbandingan hidup dengan orang lain sering memicu tekanan mental.

Selain itu, penggunaan media sosial dianggap mengganggu proses belajar. Anak lebih fokus pada gawai dari pada pelajaran. Waktu tidur juga berkurang karena terlalu lama menatap layar. Interaksi sosial langsung ikut terdampak. Anak lebih suka berkomunikasi lewat layar daripada bertemu langsung. Kondisi ini dinilai dapat menghambat perkembangan emosi dan empati.

Posisi Indonesia Dibanding Negara Lain

Angka persetujuan di Indonesia jauh lebih tinggi dari pada negara lain. Di banyak negara, pembatasan medsos masih menjadi perdebatan. Sebagian masyarakat memilih pendekatan edukasi, bukan larangan. Faktor budaya menjadi salah satu penyebab. Nilai kekeluargaan di Indonesia masih kuat. Orang tua merasa bertanggung jawab penuh atas tumbuh kembang anak.

Akses internet yang semakin luas juga berpengaruh. Anak bisa menggunakan media sosial sejak usia sangat muda. Tanpa pengawasan, risiko menjadi lebih besar. Kasus kejahatan digital yang melibatkan anak turut meningkatkan kekhawatiran. Penipuan, perundungan daring, dan eksploitasi anak sering terjadi. Hal ini membuat masyarakat mendukung aturan yang lebih ketat.

Tantangan Dan Peran Pemerintah

Larangan media sosial untuk anak bukan hal mudah terapkan. Teknologi berkembang cepat dan sulit terbatasi. Anak juga semakin cerdas dalam mengakali aturan. Pemerintah dinilai perlu hadir dengan regulasi jelas. Aturan usia minimum dan sistem verifikasi harus perkuat. Platform digital juga minta ikut bertanggung jawab.

Peran sekolah tidak kalah penting. Literasi digital perlu ajarkan sejak dini. Anak harus paham risiko dan cara menggunakan internet dengan aman. Orang tua tetap menjadi kunci utama. Pendampingan dan komunikasi terbuka sangat butuhkan. Larangan tanpa penjelasan bisa memicu konflik. Survei ini menjadi sinyal kuat bagi pembuat kebijakan. Perlindungan anak di ruang digital harus menjadi prioritas. Media sosial perlu atur agar tidak merugikan generasi masa depan.