Pro Kontra Donat Rp 34 Ribu Jualan Jenna Natasya, Netizen: Kemahalan!

Jasasosialmedia.com – Jagat media sosial kembali diramaikan dengan perbincangan soal harga makanan yang dinilai tak masuk akal. Kali ini, sorotan tertuju pada sebuah brand donat milik seorang influencer yang menjual produknya dengan harga Rp 34 ribu per biji. Harga tersebut langsung memicu gelombang komentar dari netizen yang menilai banderolnya terlalu mahal untuk ukuran donat.

Perdebatan bermula setelah unggahan promosi donat tersebut beredar luas di berbagai platform media sosial. Dalam promosi itu, terlihat donat dengan tampilan premium, topping melimpah, serta kemasan eksklusif. Influencer pemilik brand tersebut mengklaim produknya dibuat dari bahan berkualitas tinggi dan diproduksi secara terbatas untuk menjaga kualitas.

Namun alih-alih mendapat pujian, harga Rp 34 ribu per biji justru menjadi bahan perbincangan panas. Banyak warganet membandingkannya dengan harga donat di pasaran yang umumnya dijual mulai dari Rp 8 ribu hingga Rp 15 ribu per buah, bahkan untuk merek ternama sekalipun.

“Donat doang Rp 34 ribu? Isinya emas?” tulis salah satu netizen dalam kolom komentar yang kemudian viral dan dikutip ulang oleh banyak akun gosip. Komentar serupa pun bermunculan, mempertanyakan apakah harga tersebut benar-benar sebanding dengan rasa dan kualitas yang ditawarkan.

Sebagian netizen menilai harga tersebut terlalu tinggi, apalagi di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang bagi sebagian masyarakat. Mereka berpendapat bahwa makanan seperti donat merupakan camilan umum yang seharusnya terjangkau oleh berbagai kalangan.

“Kalau targetnya cuma kalangan tertentu sih silakan, tapi jangan heran kalau banyak yang kaget,” tulis pengguna media sosial lainnya.

Meski demikian, tak sedikit pula yang membela sang influencer. Mereka berargumen bahwa setiap pelaku usaha berhak menentukan harga sesuai dengan konsep dan segmentasi pasar yang dibidik. Menurut mereka, donat tersebut bukan sekadar jajanan biasa, melainkan produk premium dengan positioning yang jelas.

Pendukung brand tersebut juga menyoroti aspek branding yang kuat. Sebagai seorang influencer dengan jutaan pengikut, sang pemilik dinilai memiliki nilai jual tersendiri. Popularitas dianggap menjadi bagian dari strategi pemasaran yang membuat produk memiliki daya tarik lebih.

Di sisi lain, beberapa pengamat bisnis kuliner menilai fenomena ini sebagai bagian dari tren “celebrity brand” yang semakin marak. Banyak figur publik yang merambah dunia kuliner dengan mengusung konsep eksklusif dan harga premium. Strategi ini kerap menyasar pasar loyal yang ingin merasakan kedekatan dengan figur idolanya.

Dalam dunia bisnis, harga memang tak melulu soal bahan baku. Ada banyak komponen yang memengaruhi, mulai dari biaya produksi, sewa tempat, gaji karyawan, distribusi, kemasan, hingga biaya promosi. Brand yang dibangun oleh influencer biasanya juga mengalokasikan anggaran besar untuk tampilan visual dan kampanye digital.

Meski begitu, tantangan terbesar dari produk dengan harga premium adalah ekspektasi konsumen. Semakin tinggi harga yang dipatok, semakin tinggi pula harapan terhadap kualitas rasa, tekstur, hingga pelayanan. Jika tidak sesuai, kritik akan lebih mudah muncul dan menyebar cepat di era media sosial.

Beberapa netizen bahkan mengaku penasaran dan berniat membeli donat tersebut hanya untuk membuktikan apakah rasanya benar-benar “semahal itu”. Fenomena ini menunjukkan bahwa kontroversi terkadang justru menjadi strategi promosi tidak langsung yang efektif. Produk menjadi viral, diperbincangkan, dan akhirnya menarik rasa ingin tahu publik.

Di sisi lain, perdebatan ini juga membuka diskusi lebih luas tentang persepsi harga dan nilai suatu produk. Apa yang dianggap mahal oleh satu orang, belum tentu mahal bagi orang lain. Segmentasi pasar menjadi kunci penting dalam strategi penetapan harga.

Jika memang menyasar kelas menengah ke atas, harga Rp 34 ribu per biji bisa jadi bukan masalah besar. Apalagi jika didukung dengan kualitas bahan premium seperti cokelat impor, keju pilihan, atau teknik pembuatan khusus. Namun, transparansi mengenai keunggulan produk menjadi faktor penting agar konsumen memahami alasan di balik harga tersebut.

Fenomena kecaman netizen terhadap donat mahal ini juga mencerminkan kuatnya pengaruh opini publik di media sosial. Dalam hitungan jam, sebuah produk bisa menjadi viral, baik karena pujian maupun kritik. Reaksi publik yang masif dapat memengaruhi citra brand dalam waktu singkat.

Bagi pelaku usaha, situasi seperti ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kontroversi mendatangkan perhatian besar dan meningkatkan awareness. Di sisi lain, jika tidak ditangani dengan komunikasi yang tepat, bisa berdampak pada reputasi jangka panjang.

Hingga kini, perdebatan soal donat Rp 34 ribu tersebut masih terus bergulir. Ada yang tetap menganggapnya terlalu mahal, ada pula yang melihatnya sebagai pilihan bisnis yang sah-sah saja. Pada akhirnya, keputusan membeli atau tidak kembali kepada konsumen.

Terlepas dari pro dan kontra, satu hal yang pasti: strategi harga dan kekuatan media sosial kini menjadi dua elemen penting dalam dunia bisnis kuliner modern. Sebuah donat bukan lagi sekadar camilan manis, melainkan juga simbol branding, gaya hidup, dan persepsi nilai di mata publik.

Liverpool Kena Comeback Man City, Netizen: Haaland Tukang Nagih Poin

Jasasosialmedia.com – Pertandingan panas antara Liverpool dan Manchester City kembali menyita perhatian publik sepak bola dunia. Laga yang awalnya tampak berpihak kepada Liverpool justru berakhir dengan comeback dramatis dari Manchester City. Hasil ini tidak hanya memicu perbincangan soal taktik dan performa pemain, tetapi juga melahirkan gelombang komentar kocak dari para netizen di media sosial. Salah satu sosok yang paling ramai dibahas tentu saja Erling Haaland, yang oleh netizen dijuluki sebagai “tukang nagih poin di menit akhir”.

Sejak peluit akhir dibunyikan, linimasa media sosial seperti X (Twitter), Instagram, hingga TikTok langsung dibanjiri reaksi warganet. Alih-alih hanya berdebat serius soal strategi Pep Guardiola atau keputusan wasit, banyak netizen justru memilih mengekspresikan kekecewaan dan kekaguman mereka lewat humor segar dan sindiran lucu.

Comeback yang Bikin Emosi Campur Aduk

Liverpool sejatinya tampil meyakinkan di awal laga. Permainan cepat dan tekanan tinggi membuat Manchester City sempat kesulitan mengembangkan permainan. Para pendukung The Reds sudah mulai percaya diri, bahkan sebagian netizen Liverpool sudah “memanaskan” meme kemenangan sejak babak kedua belum usai.

Namun, seperti banyak laga sebelumnya, Manchester City menunjukkan mental juara mereka. Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil, hingga gol penentu tercipta di menit-menit akhir. Di sinilah nama Erling Haaland kembali muncul sebagai aktor utama, entah lewat gol langsung, pergerakan kunci, atau efek domino yang membuat pertahanan lawan panik.

“Haaland Tukang Nagih Poin”

Salah satu komentar netizen yang paling viral berbunyi, “Haaland itu kayak debt collector, datangnya selalu di menit akhir buat nagih poin.” Ungkapan ini langsung menyebar luas dan diparodikan dalam berbagai versi.

Ada pula netizen yang menulis, “Liverpool udah pegang kuitansi menang, tapi Haaland datang bilang: ‘Belum lunas.’” Komentar-komentar semacam ini sukses mengundang tawa, bahkan dari fans netral yang hanya ingin menikmati drama Premier League.

Julukan “tukang nagih poin” pun melekat karena dianggap sangat menggambarkan peran Haaland. Striker asal Norwegia itu dikenal sering muncul di saat-saat krusial, membuat harapan lawan runtuh tepat ketika mereka merasa kemenangan sudah di depan mata.

Netizen Liverpool: Antara Kesal dan Pasrah

Pendukung Liverpool tentu menjadi pihak yang paling emosional. Namun alih-alih meluapkan kemarahan secara berlebihan, banyak dari mereka justru memilih jalur humor sebagai pelampiasan.

Salah satu komentar berbunyi, “Salah kami sendiri, lupa matiin alarm Haaland di menit 90.” Ada juga yang menulis, “Anfield aman, Etihad aman, tapi menit akhir? Itu wilayah kekuasaan Haaland.”

Nada pasrah tapi lucu ini menunjukkan betapa netizen sudah sangat familiar dengan pola Manchester City dan Haaland. Kekalahan terasa pahit, tetapi tetap bisa ditertawakan bersama.

Fans City Ikut Pamer, Tapi Tetap Santai

Di sisi lain, pendukung Manchester City tak mau kalah meramaikan kolom komentar. Banyak dari mereka yang ikut menggoda fans Liverpool dengan candaan ringan.

“Kalau belum ada Haaland, jangan tutup pertandingan,” tulis seorang netizen. Yang lain menambahkan, “City itu bukan main 90 menit, tapi main sampai lawan menyerah.”

Alih-alih provokasi keras, mayoritas komentar fans City justru bernada santai dan penuh meme. Hal ini membuat suasana perdebatan tetap seru tanpa berubah menjadi toxic.

Haaland dan Mitos Menit Akhir

Fenomena Haaland mencetak atau berkontribusi pada gol penting di menit akhir memang bukan hal baru. Statistik dan fakta di lapangan memperkuat anggapan netizen bahwa Haaland adalah pemain dengan insting mematikan di momen krusial.

Tak heran jika muncul komentar seperti, “Menit 90 ke atas itu DLC khusus Haaland,” atau “Boss terakhir Premier League itu Haaland, munculnya pas waktu hampir tamat.”

Candaan-candaan ini justru menunjukkan betapa besar respek publik terhadap kualitas sang striker, meskipun dibungkus dengan humor.

Sepak Bola, Meme, dan Budaya Netizen

Laga Liverpool vs Manchester City sekali lagi membuktikan bahwa sepak bola modern tidak hanya hidup di lapangan, tetapi juga di media sosial. Meme, komentar lucu, dan istilah viral kini menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman menonton pertandingan.

Bagi netizen, humor adalah cara paling efektif untuk merespons hasil pertandingan, baik saat tim kesayangan menang maupun kalah. Dalam kasus ini, comeback City dan aksi Haaland menjadi bahan bakar sempurna untuk kreativitas warganet.

Penutup

Kata-kata lucu netizen usai Liverpool di-comeback Manchester City menunjukkan sisi lain dari rivalitas sepak bola yang lebih cair dan menghibur. Julukan “Haaland tukang nagih poin di menit akhir” mungkin terdengar bercanda, tetapi di balik itu tersimpan pengakuan akan ketajaman dan mental baja sang striker.

Pada akhirnya, sepak bola bukan hanya soal skor akhir, tetapi juga soal cerita, emosi, dan tawa yang menyertainya. Dan selama masih ada laga dramatis serta pemain seperti Haaland, netizen akan selalu punya bahan untuk bercanda—dan tentu saja, untuk viral.

Netizen Heboh Ejaan Nama Negara, Dari Tailan Hingga Paraguai

Jasasosialmedia.com – Media sosial Indonesia kembali diramaikan oleh tren yang terdengar sepele, tapi bikin banyak orang mikir ulang: ejaan nama negara. Warganet mendadak ramai membahas penulisan “Tailan”, “Paraguai”, hingga “Spanyol” yang dianggap berbeda dari nama internasional yang selama ini akrab di telinga. Tak sedikit yang kaget, merasa asing, bahkan mengira itu adalah ejaan baru yang tiba-tiba muncul.

Padahal, di balik kehebohan ini tersimpan fakta menarik soal bahasa Indonesia. Banyak nama negara sebenarnya sudah lama memiliki ejaan baku sesuai kaidah bahasa Indonesia, hanya saja jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari. Tren ini pun menjadi pengingat bahwa bahasa terus hidup, berkembang, dan sering kali luput kita sadari perubahannya.

Tailan Dan Logika Ejaan Bahasa Indonesia

Nama “Tailan” menjadi contoh paling viral dalam tren ini. Selama bertahun-tahun, masyarakat Indonesia terbiasa menulis dan menyebut Thailand. Namun, menurut kaidah ejaan bahasa Indonesia, gabungan huruf “th” tidak dikenal dan seharusnya disederhanakan menjadi “t”. Dari sinilah muncul bentuk Tailan, yang secara fonetis lebih sesuai dengan lidah penutur Indonesia.

Hal serupa juga berlaku pada penyesuaian huruf lain yang dianggap tidak lazim, seperti “ph”, “ch”, atau “y” di posisi tertentu. Tujuan penyesuaian ini bukan untuk mengubah identitas negara, melainkan agar penulisannya konsisten dengan sistem bunyi bahasa Indonesia. Sayangnya, karena media global lebih sering menggunakan ejaan internasional, versi baku Indonesia kalah populer dan terasa “aneh” ketika muncul kembali.

Dari Paraguai Hingga Spanyol Sudah Lama Ada

Selain Tailan, nama Paraguai juga sukses membuat netizen terkejut. Banyak yang baru tahu bahwa Paraguay dalam bahasa Indonesia ditulis Paraguai. Perubahan ini menyesuaikan bunyi akhir kata agar lebih mudah dibaca dan ditulis tanpa huruf yang jarang digunakan.

Contoh lainnya sebenarnya sudah sangat familiar, seperti Spanyol untuk Spain, Jerman untuk Germany, dan Mesir untuk Egypt. Bedanya, nama-nama ini sudah lama digunakan secara konsisten dalam bahasa Indonesia, sehingga tidak menimbulkan kejutan. Ketika nama seperti Paraguai atau Tailan diangkat, barulah muncul kesan bahwa ini adalah “ejaan versi baru”, padahal sebenarnya bukan.

Reaksi Netizen Dan Kesadaran Berbahasa

Reaksi netizen terhadap tren ini terbilang beragam. Ada yang menertawakan, ada yang mempertanyakan keabsahannya, dan ada pula yang justru antusias mempelajarinya lebih dalam. Beberapa kreator konten bahkan menjadikan topik ini sebagai bahan edukasi ringan yang mudah dicerna dan menghibur.

Fenomena ini menunjukkan bahwa minat terhadap bahasa Indonesia sebenarnya cukup besar, asalkan dikemas dengan cara yang relevan dan tidak menggurui. Meski belum tentu ejaan seperti Tailan atau Paraguai akan langsung digunakan secara luas, diskusi yang tercipta sudah menjadi langkah awal yang positif. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tapi juga cerminan budaya dan identitas. Dan dari tren sederhana ini, netizen kembali diingatkan bahwa belajar bahasa bisa dimulai dari hal-hal kecil yang dekat dengan keseharian.

Viral Kafe Di Bandung Diduga Buang Kucing Dalam Karung, Netizen Murka

Jasasosialmedia.com – Sebuah kafe yang cukup populer di Bandung mendadak menjadi sorotan publik setelah beredar video dan foto yang memperlihatkan dugaan tindakan tidak manusiawi terhadap seekor kucing. Dalam unggahan yang viral di berbagai platform media sosial, kucing tersebut terlihat masukkan ke dalam karung dan buang. Kejadian ini sontak memicu kemarahan warganet, khususnya para pencinta hewan.

Kasus ini dengan cepat menyebar dan menuai reaksi keras. Banyak netizen mengecam tindakan tersebut sebagai bentuk kekerasan terhadap hewan yang tidak dapat benarkan dalam kondisi apa pun. Tagar boikot kafe pun ramai, disertai seruan agar pihak berwenang segera turun tangan mengusut kasus tersebut.

Kronologi Kejadian Yang Viral Di Media Sosial

Berdasarkan informasi yang beredar, peristiwa tersebut pertama kali diunggah oleh seorang warga yang mengaku melihat langsung kejadian itu di sekitar area kafe. Dalam unggahan tersebut, sebutkan bahwa seekor kucing yang sering terlihat di sekitar kafe masukkan ke dalam karung oleh seseorang yang diduga memiliki keterkaitan dengan pihak kafe. Karung tersebut kemudian dibawa pergi dan buang di lokasi yang tidak ketahui.

Unggahan itu disertai foto dan video sebagai bukti pendukung, sehingga dengan cepat menarik perhatian publik. Banyak netizen mempertanyakan motif di balik tindakan tersebut dan menilai bahwa kafe seharusnya memiliki cara yang lebih beradab jika memang ingin menangani hewan liar di sekitar tempat usahanya.

Reaksi Netizen Dan Seruan Boikot

Gelombang kemarahan pun tak terhindarkan. Ribuan komentar membanjiri akun media sosial kafe terkait, sebagian besar berisi kecaman dan tuntutan klarifikasi. Netizen menilai tindakan membuang kucing dalam karung merupakan bentuk penyiksaan hewan yang melanggar norma kemanusiaan dan etika.

Seruan boikot menjadi salah satu bentuk protes yang paling banyak digaungkan. Banyak pengguna media sosial menyatakan tidak akan lagi mengunjungi kafe tersebut sampai ada permintaan maaf resmi dan pertanggungjawaban yang jelas. Bahkan, beberapa komunitas pecinta hewan di Bandung mengaku siap mengawal kasus ini hingga ke ranah hukum jika perlukan.

Tanggapan Publik Dan Pentingnya Perlindungan Hewan

Kasus ini kembali membuka diskusi luas mengenai perlindungan hewan di Indonesia, khususnya hewan liar di lingkungan perkotaan. Banyak pihak menilai bahwa pelaku usaha seharusnya memiliki standar operasional yang lebih manusiawi dalam menghadapi keberadaan hewan di sekitar tempat usaha, seperti bekerja sama dengan komunitas penyelamat hewan atau dinas terkait.

Sejumlah warganet juga mendorong pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk lebih tegas dalam menindak kasus kekerasan terhadap hewan. Mereka berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran agar kasus serupa tidak terulang di masa mendatang. Hingga kini, publik masih menantikan klarifikasi resmi dari pihak kafe serta tindak lanjut dari pihak berwenang terkait dugaan tindakan tersebut.

Insiden Viral Di Roti O, Pegawai Tolak Pembayaran Tunai Lansia

Jasasosialmedia.com – Sebuah insiden yang melibatkan toko roti Roti O menjadi viral di media sosial Indonesia. Dalam video yang beredar luas, terlihat seorang lansia yang datang ke toko untuk membeli roti dan membayar dengan uang tunai. Namun, pegawai toko tersebut menolak pembayaran tunai yang lakukan oleh lansia tersebut. Insiden ini langsung mendapat perhatian publik, dengan banyak netizen yang merasa kecewa dan mengkritik sikap pegawai toko.

Video yang merekam kejadian tersebut dengan cepat menyebar di berbagai platform media sosial. Banyak orang yang menyayangkan tindakan pegawai yang tidak memberikan pelayanan yang layak kepada pelanggan, terutama lansia. Beberapa netizen juga menyatakan bahwa hal tersebut mencerminkan kurangnya empati terhadap kelompok rentan, seperti lansia, yang seharusnya mendapatkan perlakuan lebih baik.

Sebagai respons terhadap insiden tersebut, pihak manajemen Roti O segera mengeluarkan klarifikasi dan meminta maaf kepada pelanggan yang terdampak. Serta kepada seluruh masyarakat yang merasa kecewa dengan kejadian tersebut.

Roti O Tanggapi Isu Penolakan Dan Minta Maaf Kepada Pelanggan

Roti O, melalui akun media sosial resmi mereka, mengungkapkan permintaan maaf yang tulus atas kejadian tersebut. Dalam pernyataan resmi yang keluarkan, pihak manajemen menegaskan bahwa tindakan pegawai yang menolak pembayaran tunai dari lansia tersebut tidak mencerminkan kebijakan perusahaan. Mereka juga mengungkapkan bahwa mereka sangat menghargai setiap pelanggan, tanpa memandang usia, status sosial, atau cara pembayaran.

“Roti O sangat menyesali kejadian yang terjadi dan ingin mengklarifikasi bahwa perusahaan kami selalu berkomitmen untuk memberikan pelayanan terbaik. Bagi setiap pelanggan, termasuk lansia. Tindakan pegawai yang menolak pembayaran tunai adalah kesalahan dan kami telah mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar manajemen Roti O.

Selain itu, Roti O juga mengungkapkan bahwa mereka sedang melakukan evaluasi internal dan akan memberikan pelatihan ulang kepada seluruh karyawan mereka mengenai pelayanan yang lebih baik dan sopan kepada semua pelanggan. Ini termasuk pelatihan tentang bagaimana melayani pelanggan lansia dan kelompok rentan lainnya dengan penuh perhatian.

Insiden Pegawai Roti O Tolak Pembayaran Tunai Lansia

Pihak Roti O mengaku bahwa mereka sangat terbuka terhadap kritik dan saran dari pelanggan. Mereka mengucapkan terima kasih kepada netizen yang telah menyuarakan ketidakpuasan mereka, karena hal tersebut membantu perusahaan untuk melakukan perbaikan dan memastikan bahwa kejadian serupa tidak akan terulang di masa depan.

Roti O juga menyampaikan rasa terima kasih mereka kepada pelanggan yang tetap setia meskipun insiden ini terjadi. Mereka menegaskan bahwa kejadian ini menjadi pembelajaran penting bagi perusahaan dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan memperhatikan kebutuhan serta hak pelanggan.

Meskipun insiden ini sempat menimbulkan kekhawatiran, pihak Roti O berkomitmen untuk memperbaiki situasi dan memastikan bahwa pelanggan selalu merasa terhargai saat berbelanja di toko mereka. Selain itu, mereka juga akan lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan agar dapat memberikan layanan terbaik kepada semua pelanggan.

Dengan cepatnya tanggapan dari Roti O dan langkah yang ambil, terharapkan kepercayaan pelanggan akan segera pulih. Perusahaan berharap agar kejadian ini tidak akan mempengaruhi reputasi mereka dalam jangka panjang. Mereka akan terus berusaha untuk menjaga kualitas layanan yang profesional dan ramah kepada seluruh pelanggan, termasuk lansia.

Fuji Anak Dugem Jadi Tagline Netizen, Ini Klarifikasi Lengkapnya

Jasasosialmedia.com – Fuji kembali menjadi sorotan publik setelah secara terbuka membahas berbagai komentar netizen yang kerap ia baca di media sosial. Selebritas muda yang aktif di dunia hiburan dan digital ini mengaku cukup rajin membaca komentar, baik yang bernada positif maupun negatif. Dari sekian banyak label yang sematkan kepadanya, sebutan “anak dugem” atau “anak party” menjadi salah satu yang paling sering ia temui dan terus melekat hingga kini.

Fuji mengungkapkan bahwa label tersebut sudah ia terima sejak tahun lalu. Meski awalnya ia merasa heran, kelamaan ia memilih untuk menanggapinya dengan kepala dingin. Menurutnya, tidak semua komentar netizen mencerminkan realitas kehidupan pribadinya. Ia pun merasa perlu meluruskan anggapan yang berkembang agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan.

Klarifikasi Fuji Dugem Bukan Gaya Hidup

Dalam perbincangannya dari kanal YouTube Raditya Dika, Fuji dengan jujur mengakui bahwa memang pernah datang ke tempat hiburan malam. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak bisa langsung simpulkan sebagai hobi atau gaya hidup dugem. Baginya, datang ke tempat tersebut hanyalah salah satu cara untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas kerja yang padat.

“Orang pada bilang party mulu, party mulu. Aku nggak membenarkan itu ya, cuma aku penat, aku butuh refreshing,” ujar Fuji. Ia menambahkan bahwa setiap orang memiliki cara masing untuk menghilangkan stres, dan dalam batas tertentu, hal itu menurutnya masih wajar. Fuji juga menekankan bahwa ia tidak selalu menghabiskan waktu di luar rumah. Jika tidak ada keperluan pekerjaan atau ajakan tertentu, ia justru lebih memilih beristirahat di rumah. “Kalau aku bisa di rumah, ya aku di rumah saja,” ungkapnya.

Anak Rumahan yang Terjebak Stigma

Berbeda dengan label yang lekatkan netizen, Fuji menyebut sebagai tipe anak rumahan. Ia mengaku sering menghabiskan waktu di rumah, baik sendirian maupun bersama teman terdekat. Bahkan, aktivitas berkumpul yang ia lakukan lebih sering berlangsung di rumahnya sendiri atau di rumah sahabat. “Aku sering main di rumah kok, atau teman ke rumahku, aku ke rumah Mba Vio, Kak Er, Kak Ayu,” jelas Fuji. Menurutnya, suasana rumah justru membuatnya lebih nyaman dan aman untuk bersantai.

Terkait kemunculannya dari tempat hiburan malam, Fuji menyebut faktor pertemanan dan jadwal kerja sebagai alasan utama. Lingkungan pekerjaannya yang sering berlangsung hingga malam hari membuat waktu berkumpul dengan teman pun menyesuaikan. “Kebetulan mereka dari situ. Kebetulan juga lingkupnya sama, kerja sampai malam,” tuturnya. Meski cap anak dugem masih sering ia terima, Fuji memilih untuk tidak terlalu ambil pusing. Ia menyadari bahwa sebagai figur publik, tidak bisa lepas dari penilaian orang lain. “Aku sebenarnya di rumah sih. Terserah deh temannya siapa saja, yang penting ada teman di rumah,” pungkas Fuji, menutup klarifikasinya dengan santai.

Puji Prestasi Soeharto, Bahlil Banjir Komentar Netizen

Jasa Sosial Media – Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden Prabowo Subianto atas pemberian gelar pahlawan nasional kepada kader legendaris Golkar sekaligus Presiden ke-2 RI, Soeharto. Menurut Bahlil, gelar tersebut sangat layak diberikan karena perjuangan dan kontribusi Soeharto bagi pembangunan Indonesia.

Partai Golkar lewat mekanisme mengusulkan kepada Pak Presiden Prabowo untuk diberi gelar pahlawan. Alhamdulillah, lewat mimbar terhormat ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Presiden yang telah menganugerahi Pak Harto sebagai pahlawan nasional,” kata Bahlil pada puncak HUT ke-61 Partai Golkar di Istora Senayan.

Bahlil kemudian menyampaikan berbagai prestasi Soeharto, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang disebutnya bisa mencapai di atas 7% hingga inflasi yang terkendali pada masa tersebut.

“Alhamdulillah di bawah Presiden Pak Harto kita mampu pertumbuhan ekonomi di atas 7%, menurunkan inflasi di bawah 15%, swasembada pangan, swasembada energi. Teknologi kita juga baik, bahkan kita terkenal dengan Macan Asia,” ujar Bahlil.

Menurutnya, tidak berlebihan jika Soeharto disebut sebagai Bapak Pembangunan, karena fondasi nasional banyak diletakkan pada era pemerintahan Soeharto.

Pro Kontra Merebak, Netizen Ikut Ramai

Bahlil mengakui bahwa pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto menimbulkan pro dan kontra. Ia menyebut perbedaan pendapat adalah hal yang wajar.

“Kami menghargai pro dan kontra, tapi hal itu biasa,” ucapnya.

Di media sosial, netizen langsung meramaikan isu ini. Sebagian mendukung keputusan tersebut karena menilai Soeharto memiliki kontribusi besar dalam pembangunan nasional. Namun, banyak netizen lain yang menolak, mengingat rekam jejak kontroversial Soeharto, termasuk isu pelanggaran HAM dan gaya kepemimpinan otoriternya.

Soeharto Masuk Daftar 10 Pahlawan Nasional 2025

Pada Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden Prabowo menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada 10 tokoh di Istana Negara. Salah satunya adalah Soeharto.

Keputusan ini memicu polemik di berbagai kalangan, termasuk di lini masa media sosial tempat netizen saling berdebat mengenai kelayakannya.