Media Sosial Favorit Gen Z Dan Milenial Indonesia Di Era Digital

Jasasosialmedia.com – Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat telah mengubah cara masyarakat Indonesia berkomunikasi dan mengonsumsi informasi. Media sosial kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi Generasi Z dan Milenial yang tumbuh seiring dengan kemajuan internet dan perangkat pintar. Kedua generasi ini terkenal aktif, adaptif, dan sangat terhubung dengan dunia digital.

Di Indonesia, pilihan media sosial yang gunakan oleh Gen Z dan Milenial terus berkembang mengikuti tren global dan kebutuhan personal. Mulai dari berbagi konten hiburan, membangun personal branding, hingga mencari peluang bisnis, media sosial berperan besar dalam membentuk gaya hidup dan pola interaksi generasi muda saat ini.

Dominasi Media Sosial Visual Dan Video Pendek

Platform berbasis visual dan video pendek menjadi favorit utama Gen Z dan Milenial Indonesia. Aplikasi seperti Instagram dan TikTok mendominasi karena mampu menyajikan konten yang singkat, menarik, dan mudah konsumsi. Gen Z, khususnya, lebih menyukai video berdurasi pendek yang kreatif, informatif, dan menghibur, sehingga TikTok menjadi platform yang sangat populer di kalangan mereka.

Sementara itu, Instagram masih menjadi pilihan utama Milenial untuk berbagi momen kehidupan, membangun citra diri, hingga menjalankan bisnis online. Fitur seperti Stories, Reels, dan Live membuat platform ini tetap relevan dan mampu bersaing dengan aplikasi lain. Konten visual dianggap lebih efektif dalam menyampaikan pesan dari pada teks panjang, terutama di tengah arus informasi yang sangat cepat.

Media Sosial Sebagai Sumber Informasi Dan Hiburan

Bagi Gen Z dan Milenial, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai sumber informasi. Berita terkini, tren gaya hidup, edukasi singkat, hingga isu sosial dan politik banyak temukan melalui platform seperti Twitter (X), Instagram, dan TikTok. Cara penyampaian yang ringan dan interaktif membuat informasi lebih mudah terima.

Twitter, misalnya, masih memiliki basis pengguna Milenial yang kuat karena terkenal sebagai ruang diskusi dan berbagi opini secara real-time. Sementara itu, TikTok mulai manfaatkan sebagai media edukasi dengan hadirnya konten informatif dari kreator yang mengemas topik serius secara sederhana. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran perilaku konsumsi berita dari media konvensional ke media sosial.

Pengaruh Media Sosial Terhadap Gaya Hidup Digital

Media sosial juga memberikan dampak signifikan terhadap gaya hidup dan ekonomi digital di Indonesia. Banyak Gen Z dan Milenial yang menjadikan media sosial sebagai sumber penghasilan, baik melalui konten kreator, influencer, maupun bisnis berbasis digital. Platform seperti Instagram dan TikTok membuka peluang monetisasi melalui kerja sama brand, live shopping, hingga penjualan produk langsung.

Selain itu, media sosial turut membentuk tren fashion, kuliner, dan gaya hidup yang cepat menyebar. Apa yang viral hari ini bisa menjadi tren nasional dalam hitungan jam. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh media sosial dalam membentuk preferensi dan keputusan generasi muda. Ke depan, peran media sosial perkirakan akan semakin kuat seiring dengan inovasi teknologi dan perubahan perilaku pengguna di Indonesia.

Tren Nikah Muda Di Media Sosial, Antara Romantis Dan Realitas

Jasasosialmedia.com – Fenomena kampanye nikah muda kembali ramai perbincangkan di media sosial. Berbagai konten di TikTok, Instagram, hingga X menampilkan pasangan muda yang menikah di usia belasan atau awal 20-an dengan narasi romantis, religius, dan inspiratif. Tidak jarang, kampanye ini sertai pesan bahwa menikah muda adalah solusi untuk menghindari pergaulan bebas, dosa, hingga tekanan sosial.

Namun, viralnya tren ini juga memicu perdebatan. Banyak pihak mempertanyakan kesiapan mental, ekonomi, dan emosional pasangan yang menikah di usia muda. Derasnya arus konten yang menormalisasi nikah muda, muncul pertanyaan penting: sebenarnya, usia berapa yang ideal untuk menikah?

Fenomena Nikah Muda Dan Pengaruh Media Sosial

Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk persepsi generasi muda terhadap pernikahan. Konten yang menampilkan kehidupan rumah tangga pasangan muda sering kali hanya menyoroti sisi bahagia, romantis, dan estetik, tanpa membahas konflik, tanggung jawab, atau tantangan yang hadapi setelah menikah. Hal ini dapat menciptakan ekspektasi yang tidak realistis tentang pernikahan.

Selain itu, kampanye nikah muda kerap terbalut dengan narasi moral dan agama yang kuat, sehingga sebagian anak muda merasa tertekan untuk segera menikah agar dianggap “benar” secara sosial atau spiritual. Padahal, setiap individu memiliki latar belakang, kesiapan, dan kondisi hidup yang berbeda.

Menentukan Usia Ideal Menikah Bukan Sekadar Angka

Usia ideal menikah sejatinya tidak bisa tentukan hanya berdasarkan angka. Meski secara hukum di Indonesia usia minimal menikah adalah 19 tahun, kesiapan menikah mencakup banyak aspek lain. Kematangan emosional, kemampuan berkomunikasi, kestabilan ekonomi, serta pemahaman tentang peran dan tanggung jawab dalam rumah tangga jauh lebih penting dari pada sekadar usia.

Banyak ahli menyebutkan bahwa usia pertengahan 20-an hingga awal 30-an cenderung lebih ideal karena individu biasanya sudah memiliki identitas diri yang lebih kuat, pengalaman hidup yang cukup, dan kemampuan mengambil keputusan yang lebih matang. Namun, ini bukan berarti menikah di luar rentang usia tersebut pasti salah, selama kesiapan benar terpenuhi.

Menikah Muda Antara Pilihan Dan Risiko

Menikah muda adalah pilihan pribadi yang sah, namun tidak lepas dari risiko. Data menunjukkan bahwa pernikahan usia muda memiliki potensi konflik lebih tinggi, termasuk masalah ekonomi, komunikasi, hingga perceraian. Kurangnya kesiapan sering kali membuat pasangan kesulitan menghadapi tekanan hidup bersama.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk tidak sekadar mengikuti tren viral. Edukasi tentang pernikahan yang sehat, perencanaan masa depan, dan pengembangan diri perlu lebih kedepankan. Menikah bukanlah perlombaan, melainkan komitmen jangka panjang yang membutuhkan kesiapan lahir dan batin. Pada akhirnya, usia ideal menikah bukan ditentukan oleh media sosial, tetapi oleh kesiapan individu untuk tumbuh, belajar, dan bertanggung jawab bersama pasangan.

Reels Jadi Mesin Uang Meta, Strategi Baru Saingi YouTube Di TV

Jasasosialmedia.com – Meta semakin serius menjadikan Reels sebagai mesin uang utama. Setelah sukses memonetisasi konten video pendek di Facebook dan Instagram, Meta kini memperluas ambisinya ke layar yang lebih besar, yaitu televisi. Langkah ini menandai perubahan strategi besar Meta dalam persaingan ekosistem video global.

Perubahan perilaku pengguna yang kini lebih banyak mengonsumsi video berdurasi pendek menjadi faktor utama. Reels terbukti mampu meningkatkan waktu tonton, engagement, dan pendapatan iklan Meta secara signifikan. Melihat keberhasilan ini, Meta tak ingin berhenti di perangkat mobile saja dan mulai mengincar dominasi YouTube di ranah TV.

Reels Menjadi Pilar Pendapatan Baru Meta

Dalam beberapa tahun terakhir, Reels berkembang pesat menjadi fitur andalan Meta. Format video pendek ini berhasil menarik kreator dan pengiklan karena mampu menjangkau audiens luas dengan algoritma yang agresif. Meta bahkan secara terbuka menyebut Reels sebagai kontributor utama pertumbuhan pendapatan iklan.

Program monetisasi Reels terus perluas, mulai dari iklan di sela video, bonus kreator, hingga sistem bagi hasil yang lebih menarik. Strategi ini membuat semakin banyak kreator beralih atau setidaknya aktif memproduksi konten Reels. Hasilnya, Meta berhasil mengejar ketertinggalan dari TikTok dan memperkuat posisinya di pasar video pendek.

Strategi Meta Menyerang YouTube Di Layar TV

Langkah Meta berikutnya adalah membawa Reels ke pengalaman menonton TV. Meta mulai mengembangkan aplikasi dan antarmuka yang lebih ramah layar besar, memungkinkan pengguna menikmati konten Reels langsung dari smart TV atau perangkat streaming.

Target utamanya jelas: YouTube, yang selama ini mendominasi pasar video di TV. Meta melihat peluang besar karena konsumsi video di televisi terus meningkat, terutama untuk konten hiburan ringan dan video berdurasi pendek. Dengan mengadaptasi Reels ke format TV, Meta berharap bisa menarik penonton baru sekaligus meningkatkan nilai iklan premium.

Selain itu, iklan di TV memiliki nilai lebih tinggi dari pada mobile. Jika Reels berhasil menarik perhatian pengguna TV, Meta berpotensi membuka sumber pendapatan baru yang lebih besar dan stabil.

Dampak Bagi Kreator Dan Industri Konten Digital

Ekspansi Reels ke TV membawa peluang sekaligus tantangan bagi kreator. Di satu sisi, jangkauan konten menjadi lebih luas dan potensi pendapatan meningkat. Kreator yang mampu menyesuaikan konten agar nyaman tonton di layar besar akan memiliki keunggulan tersendiri.

Namun di sisi lain, persaingan juga akan semakin ketat. Kreator dituntut menghasilkan konten berkualitas lebih tinggi, baik dari segi visual maupun storytelling. Industri konten digital pun diprediksi akan semakin kompetitif, dengan batas antara video pendek dan video panjang semakin kabur.

Jika strategi ini berhasil, Meta tidak hanya akan menjadi raksasa media sosial, tetapi juga pemain utama dalam industri hiburan digital lintas perangkat. Persaingan dengan YouTube pun pastikan akan semakin panas dalam beberapa tahun ke depan.

Meta Prediksi Tren Sosial Digital Membentuk Bisnis Tahun 2026

Jasasosialmedia.com – Perkembangan teknologi digital dan perubahan perilaku konsumen bergerak semakin cepat. Menyadari hal tersebut, Meta mengungkap lima tren sosial dan digital yang terprediksi akan membentuk arah bisnis global pada tahun 2026. Tren ini menjadi sinyal penting bagi pelaku usaha, kreator, hingga brand agar mampu beradaptasi dan tetap relevan di tengah persaingan yang semakin ketat. Mulai dari kecerdasan buatan hingga perubahan cara konsumen berinteraksi, berikut gambaran masa depan bisnis menurut Meta.

AI Bukan Lagi Pelengkap, Tapi Inti Strategi Bisnis

Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) terproyeksikan menjadi tulang punggung utama dalam operasional bisnis pada 2026. Meta menilai AI tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan bagian inti dari strategi pemasaran, layanan pelanggan, hingga pengambilan keputusan. Chatbot berbasis AI akan semakin manusiawi, mampu memahami konteks, emosi, dan kebutuhan konsumen secara real time.

Selain itu, AI generatif akan membantu bisnis menciptakan konten secara cepat dan personal, mulai dari teks, gambar, hingga video. Dengan personalisasi yang semakin presisi, konsumen akan menerima pengalaman yang terasa lebih relevan dan tidak generik. Bisnis yang gagal mengadopsi AI berisiko tertinggal karena kalah cepat dan kalah efisien dari pada kompetitor.

Perubahan Perilaku Konsumen Di Era Sosial Lebih Personal

Meta juga menyoroti pergeseran perilaku pengguna media sosial. Interaksi publik yang bersifat terbuka prediksi akan berkurang, sementara komunikasi privat melalui pesan langsung (DM), grup kecil, dan komunitas tertutup akan semakin dominan. Konsumen kini lebih nyaman berdiskusi, berbelanja, dan mencari rekomendasi di ruang digital yang terasa aman dan personal.

Bagi bisnis, ini berarti strategi pemasaran massal tidak lagi efektif. Pendekatan berbasis komunitas dan percakapan dua arah menjadi kunci. Brand yang mampu membangun hubungan autentik, merespons dengan cepat, dan hadir sebagai “teman digital” akan lebih terpercaya. Kepercayaan menjadi mata uang baru di era sosial yang semakin selektif.

Social Commerce Dan Kreator Jadi Motor Pertumbuhan Baru

Tren berikutnya adalah semakin kuatnya peran kreator dan social commerce. Meta memprediksi bahwa batas antara hiburan, interaksi sosial, dan belanja akan semakin kabur. Konsumen tidak hanya melihat iklan, tetapi juga membeli produk langsung dari konten kreator yang mereka ikuti dan percaya.

Kreator terpandang sebagai penghubung utama antara brand dan audiens. Rekomendasi yang terasa jujur dan natural memiliki dampak lebih besar banding iklan konvensional. Oleh karena itu, kolaborasi jangka panjang dengan kreator akan menjadi strategi utama bisnis di 2026. Social commerce bukan lagi pelengkap e-commerce, melainkan salah satu kanal penjualan utama.

Masa Depan Bisnis Ditentukan Oleh Adaptasi Dan Kepercayaan

Kelima tren yang ungkap Meta menunjukkan satu benang merah: bisnis masa depan harus adaptif, personal, dan berbasis kepercayaan. Teknologi akan terus berkembang, tetapi faktor manusia seperti empati, keaslian, dan relasi tetap menjadi penentu keberhasilan.

Menuju 2026, bisnis yang mampu memadukan teknologi canggih dengan pemahaman mendalam terhadap perilaku sosial akan berada di garis depan. Sebaliknya, mereka yang bertahan pada cara lama berisiko kehilangan relevansi di tengah ekosistem digital yang terus berubah.

Fakta Penculikan Bilqis, Sindikat Jual Beli Anak Lewat Media Sosial

Jasasosialmedia.com – Kasus penculikan Bilqis memasuki babak baru setelah aparat kepolisian mengungkap fakta mengejutkan terkait jaringan pelaku. Dari hasil penyelidikan terbaru, terungkap bahwa sindikat ini tidak hanya beroperasi secara konvensional. Tetapi juga memanfaatkan media sosial seperti Facebook, TikTok, dan WhatsApp sebagai sarana untuk menjalankan praktik jual beli anak secara ilegal.

Pengungkapan ini memperlihatkan bagaimana perkembangan teknologi digital salahgunakan oleh pelaku kejahatan untuk menjangkau korban dan calon pembeli dengan lebih mudah serta cepat. Kasus ini pun menjadi peringatan keras bagi masyarakat tentang bahaya laten kejahatan di ruang digital.

Modus Sindikat Manfaatkan Media Sosial

Berdasarkan keterangan kepolisian, sindikat penculikan dan perdagangan anak ini menggunakan media sosial untuk mencari target, membangun komunikasi, hingga melakukan transaksi. Facebook manfaatkan untuk menjalin perkenalan awal, TikTok gunakan untuk memantau aktivitas calon korban atau menarik perhatian, sementara WhatsApp menjadi sarana komunikasi tertutup antaranggota jaringan.

Pelaku terduga menyamarkan aktivitas mereka dengan dalih adopsi atau bantuan sosial. Dengan bahasa yang tampak meyakinkan, sindikat berusaha membangun kepercayaan keluarga atau individu tertentu. Setelah komunikasi terjalin, pelaku kemudian mengatur pertemuan dan proses pemindahan anak secara ilegal.

Dalam kasus Bilqis, polisi menemukan jejak komunikasi digital yang mengarah pada praktik terorganisir. Hal ini memperkuat dugaan bahwa kasus tersebut bukanlah peristiwa tunggal, melainkan bagian dari jaringan yang lebih besar dan telah beroperasi dalam jangka waktu tertentu.

Pengungkapan Fakta Baru Oleh Kepolisian

Penyidik mengungkap bahwa sindikat ini terduga telah memperjualbelikan beberapa anak di berbagai wilayah. Fakta ini peroleh dari hasil pemeriksaan tersangka, barang bukti digital, serta penelusuran percakapan di sejumlah aplikasi pesan instan.

Polisi juga menyita sejumlah ponsel dan akun media sosial yang gunakan pelaku untuk menjalankan aksinya. Dari sana, temukan pola komunikasi yang sistematis dan terstruktur, mulai dari perekrutan, penampungan sementara, hingga distribusi korban.

Aparat penegak hukum menegaskan bahwa pengungkapan kasus ini masih terus berkembang. Tidak menutup kemungkinan adanya tersangka baru, termasuk pihak yang berperan sebagai penghubung atau pembeli. Kepolisian berkomitmen untuk menelusuri jaringan hingga ke akar demi mencegah kasus serupa terulang.

Imbauan Dan Perlindungan Anak Di Era Digital

Kasus penculikan Bilqis menjadi alarm serius bagi orang tua dan masyarakat luas tentang pentingnya pengawasan terhadap aktivitas anak di dunia digital. Media sosial, meski membawa banyak manfaat, juga menyimpan potensi ancaman jika tidak gunakan dengan bijak.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap tawaran adopsi ilegal, bantuan mencurigakan, atau komunikasi yang melibatkan anak melalui media sosial. Orang tua juga minta untuk meningkatkan literasi digital serta membangun komunikasi terbuka dengan anak mereka.

Selain penegakan hukum, perlindungan anak membutuhkan peran aktif semua pihak, termasuk pemerintah, platform media sosial, dan masyarakat. Dengan pengawasan bersama dan pelaporan cepat terhadap aktivitas mencurigakan, harapkan ruang digital dapat menjadi tempat yang lebih aman bagi anak Indonesia.

Google Tunda Gemini AI Jadi Asisten Android Server Utama

Jasasosialmedia.com – Google memastikan bahwa proses penggantian Google Assistant dengan Gemini di perangkat Android belum akan selesai dalam waktu dekat. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat tersebut mengumumkan bahwa transisi penuh baru akan berlanjut hingga 2026, mundur dari rencana awal yang menargetkan akhir 2025. Keputusan ini menunjukkan bahwa Google mengambil pendekatan lebih hati-hati dalam melakukan perubahan besar pada layanan inti Android.

Dalam pernyataan resminya, Google menyebut penyesuaian jadwal ini lakukan demi memastikan pengalaman pengguna tetap berjalan mulus. Perusahaan ingin menghindari gangguan besar bagi jutaan pengguna Android yang selama bertahun-tahun mengandalkan Google Assistant sebagai asisten digital utama. Dengan kata lain, Google memilih stabilitas dan kenyamanan pengguna dari pada memaksakan transisi cepat.

Gemini Dipersiapkan Bertahap Sebagai Asisten Generasi Baru

Gemini posisikan sebagai asisten digital generasi baru berbasis kecerdasan buatan (AI) yang secara bertahap akan menggantikan peran Google Assistant. Meski peralihan penuh di Android masih memerlukan waktu, Google sebenarnya sudah lebih dulu membawa Gemini ke berbagai platform lain. Beberapa di antaranya adalah Wear OS, Android Auto, serta perangkat rumah pintar seperti Nest dan Google Home.

Sepanjang tahun ini, Google juga mulai memperluas kemampuan Gemini agar semakin menyerupai fungsi asisten digital konvensional. Gemini kini dapat melakukan tugas-tugas dasar seperti melakukan panggilan telepon, mengatur timer, hingga mengirim pesan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi Google untuk membiasakan pengguna dengan Gemini sebelum benar-benar menjadikannya pengganti Google Assistant.

Menariknya, fitur tersebut tetap dapat gunakan meskipun opsi Gemini Apps Activity matikan. Artinya, pengguna masih bisa memanfaatkan fungsi asisten tanpa harus menyetujui interaksi mereka gunakan untuk pelatihan AI. Kebijakan ini ternilai sebagai respons Google terhadap kekhawatiran publik terkait privasi dan penggunaan data pribadi.

Google Assistant Belum Akan Hilang Dalam Waktu Dekat

Setelah proses migrasi selesai nantinya, Google Assistant tidak lagi dapat terakses pada perangkat Android yang memenuhi syarat minimum untuk menjalankan Gemini. Selain itu, aplikasi Google Assistant juga tidak akan tersedia untuk unduh secara terpisah. Meski demikian, hingga saat ini Google Assistant masih tetap menjadi asisten bawaan di banyak perangkat Android.

Google belum memberikan penjelasan rinci mengenai kapan Google Assistant akan benar-benar “dipensiunkan” sepenuhnya. Dengan target baru hingga 2026, pengguna masih memiliki waktu yang cukup panjang untuk beradaptasi dengan Gemini sebagai asisten digital utama di ekosistem Android.

Penundaan ini menegaskan bahwa menggantikan asisten suara yang sudah mapan dengan teknologi AI generatif bukanlah perkara mudah. Google tampaknya memilih bermain aman, memastikan Gemini benar-benar siap dari sisi teknologi, privasi, dan pengalaman pengguna sebelum sepenuhnya mengambil alih peran Google Assistant. Pendekatan bertahap ini harapkan mampu menjaga kepercayaan pengguna sekaligus membuka jalan bagi evolusi asisten digital yang lebih cerdas di masa depan.

Kasus Medis Viral, Operasi Lutut Ungkap Ratusan Benang Emas

Jasasosialmedia.com – Sebuah kejadian medis yang tidak lazim mendadak viral di media sosial. Seorang dokter menemukan ratusan benang emas murni tertanam pada lutut seorang wanita saat menjalani tindakan medis. Temuan mengejutkan ini terjadi ketika pasien datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri lutut kronis yang telah ada selama bertahun-tahun. Rasa sakit tersebut semakin parah dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sehingga pasien memutuskan untuk mencari penanganan medis lebih lanjut.

Saat dokter melakukan pemeriksaan mendalam dan tindakan lanjutan, tim medis dibuat terkejut dengan keberadaan benang-benang tipis berwarna keemasan di sekitar jaringan sendi lutut. Jumlahnya tidak sedikit, bahkan mencapai ratusan helai yang tersebar di beberapa bagian. Setelah teliti, benang tersebut merupakan benang emas murni yang sengaja masukkan ke dalam tubuh pasien pada masa lalu sebagai bagian dari terapi tertentu.

Pengobatan Alternatif Dari Balik Benang Emas

Berdasarkan keterangan dokter, pasien mengaku pernah menjalani pengobatan alternatif bertahun-tahun sebelumnya untuk mengatasi nyeri sendi yang ia alami. Dalam praktik tersebut, benang emas terpercaya mampu membantu meredakan rasa sakit, melancarkan aliran energi tubuh, serta mempercepat proses penyembuhan. Metode ini terkenal di beberapa negara dan sering kaitkan dengan terapi tradisional, meski tidak termasuk prosedur medis yang akui secara luas.

Namun, dari sudut pandang medis modern, penggunaan benang emas di dalam tubuh belum memiliki dasar ilmiah yang kuat. Kehadiran benda asing dalam jangka panjang justru berpotensi memicu peradangan, iritasi jaringan, hingga infeksi. Dokter menduga benang emas tersebut kemungkinan menjadi salah satu faktor penyebab nyeri berkepanjangan yang dialami pasien selama ini.

Viral Pada Media Sosial Dan Imbauan Dokter

Kisah penemuan benang emas di lutut pasien ini kemudian bagikan di media sosial dan langsung menyedot perhatian publik. Banyak warganet mengaku terkejut dan baru mengetahui adanya praktik pengobatan alternatif semacam itu. Tak sedikit pula yang mempertanyakan keamanan metode pengobatan yang tidak melalui standar medis resmi.

Pihak rumah sakit menyatakan kondisi pasien kini stabil dan tengah menjalani perawatan lanjutan. Dokter mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam memilih metode pengobatan, terutama yang melibatkan tindakan invasif atau memasukkan benda asing ke dalam tubuh. Konsultasi dengan tenaga medis profesional sangat sarankan sebelum mencoba terapi apa pun. Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa tidak semua metode pengobatan tradisional aman jika tidak terdukung bukti medis yang jelas. Edukasi dan kewaspadaan masyarakat harapkan dapat mencegah risiko kesehatan yang tidak anda inginkan di masa depan.

Kedatangan Messi ke India, Fans Kehilangan Kesempatan Bertemu Idola

Jasasosialmedia.com – Keputusan Lionel Messi untuk mengunjungi India dalam rangka acara olahraga baru ini telah menciptakan gelombang antusiasme di kalangan penggemar sepak bola India. Namun, meskipun momen tersebut seharusnya menjadi kesempatan luar biasa bagi para penggemar untuk bertemu dengan idola mereka.

Kenyataannya, banyak fans yang pulang kecewa. Penyebab utama kekecewaan ini tidak hanya berkaitan dengan jadwal yang terbatas, tetapi juga dengan munculnya ketegangan antara pejabat setempat dan para penggemar Messi. Ini tentu sangat mengecewakan, mengingat banyak dari mereka telah menunggu kesempatan ini selama bertahun-tahun.

Pejabat Yang Lebih Fokus Pada Diri Sendiri

Acara yang diselenggarakan di India seharusnya menjadi ajang yang mempertemukan Messi dengan penggemar setianya, namun yang terjadi justru sebaliknya. Beberapa pejabat yang terlibat dalam acara tersebut cenderung lebih menonjolkan diri. Mereka ketimbang memberikan ruang bagi Messi untuk berinteraksi langsung dengan fans. Momen penting saat Messi hadir di acara ini justru sering kali mendapati aksi narsis. Para pejabat yang lebih sibuk berfoto dengan Messi daripada memberi kesempatan kepada penggemar untuk melihat idolanya. Tak jarang, pejabat tersebut malah mengambil lebih banyak perhatian dari pada Messi. Bahkan dalam sesi foto bersama yang seharusnya menjadi momen spesial bagi penggemar.

Para fans merasa sangat kecewa karena kesempatan untuk bertemu dengan Messi sangat terbatas, apalagi mengingat status megabintang yang miliki oleh pemain asal Argentina ini. Banyak yang menginginkan kesempatan untuk berbicara langsung, meminta tanda tangan, atau sekadar berfoto bersama. Namun, agenda pejabat dan tim penyelenggara yang terlalu sibuk dengan urusan formalitas membuat acara ini terkesan lebih sebagai ajang pamer bagi mereka daripada sebuah perayaan untuk para penggemar.

Fans Yang Kecewa Dengan Pengalaman Terbatas

Bagi sebagian besar penggemar, Messi adalah simbol dari kehebatan sepak bola. Sebagai pemain yang telah mengukir sejarah, kehadirannya di India seharusnya menjadi momen tak terlupakan. Sayangnya, sebagian besar penggemar merasa sangat kecewa dengan pengalaman yang mereka dapatkan. Menurut laporan yang beredar, para penggemar yang hadir tidak beri kesempatan untuk berinteraksi dengan Messi lebih lama. Sebagian besar dari mereka hanya bisa melihat sang legenda dari jauh, sementara beberapa bahkan tidak bisa mendekat karena pengamanan yang ketat.

Selain itu, meskipun acara tersebut janjikan sebagai kesempatan untuk merayakan sepak bola. Banyak penggemar yang merasa bahwa penyelenggara lebih memprioritaskan kepentingan bisnis dan politik daripada memberikan pengalaman yang memadai bagi para penonton. Banyak yang merasa bahwa Messi lebih dilihat sebagai simbol komersial daripada sosok yang hadir untuk berinteraksi dengan fans setia.

Harapan Untuk Pengalaman Lebih Baik Di Masa Depan

Meskipun acara tersebut menuai kritik, harapan masih ada untuk perbaikan di masa depan. Beberapa pengamat berharap agar penyelenggara acara di India dapat lebih memperhatikan keinginan. Para penggemar dan tidak hanya fokus pada kepentingan politik dan bisnis. Mereka berharap ada lebih banyak acara di mana para pemain besar seperti Messi dapat berinteraksi langsung dengan penggemar, memberi mereka kesempatan untuk merasakan pengalaman yang lebih berarti. Di sisi lain, Messi tetap menjadi sosok yang hormati dan cintai oleh penggemarnya di seluruh dunia, termasuk India.

Meskipun kedatangannya kali ini oleh berbagai kendala. Banyak yang berharap bahwa kesempatan serupa di masa depan akan membawa pengalaman yang lebih baik bagi penggemar sepak bola di India. Akhirnya, meski fans kecewa dengan kondisi yang ada, kedatangan Messi ke India tetap menjadi momen bersejarah yang tidak akan terlupakan. Mungkin di kesempatan berikutnya, fans bisa benar merasakan apa yang selama ini mereka impikan: bertemu dan berinteraksi langsung dengan sang legenda sepak bola dunia.

Sektor Digital Diincar Pajak: Marketplace Hingga Media Sosial Terlibat

Jasa Sosial Media – Pemerintah resmi menunjuk e-commerce atau marketplace sebagai pemungut PPh Pasal 22 bagi pedagang online. Kebijakan ini tertuang dalam PMK No. 37 Tahun 2025 dan mulai berlaku 14 Juli 2025. Dengan aturan ini, Direktorat Jenderal Pajak diberikan kewenangan untuk menentukan platform mana saja yang wajib memungut pajak, termasuk berdasarkan nilai transaksi dan jumlah traffic pengunjung. Langkah ini diambil untuk memperluas basis pajak di sektor digital yang terus berkembang pesat.

Pemerintah Mulai Melirik Pajak di Media Sosial

Selain marketplace, pemerintah juga membuka peluang pemungutan pajak dari aktivitas ekonomi di media sosial. Wamenkeu Anggito Abimanyu menjelaskan bahwa pemerintah akan memanfaatkan data analytics untuk menggali potensi pajak baru. Meski detail mekanismenya belum dipaparkan, hal ini menunjukkan bahwa transaksi jualan di media sosial juga mulai mendapat perhatian serius.

Kebijakan Tambahan untuk Tingkatkan Penerimaan Negara

Tidak hanya soal PPh 22, pemerintah juga sedang menyiapkan beberapa langkah pendukung, seperti:

Rencana penerapan cukai untuk makanan olahan tinggi natrium,

Penguatan regulasi perpajakan dan PNBP,

Serta perbaikan sistem bisnis di sektor ekspor–impor dan logistik.

Kebijakan-kebijakan ini diharapkan dapat memperbaiki struktur penerimaan negara secara keseluruhan.

Target Penerimaan Negara 2026

Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan:

Rasio penerimaan negara terhadap PDB: 11,71–12,22%

Rasio perpajakan: 10,08–10,45%

Rasio PNBP: 1,63–1,76%

Target ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat fondasi fiskal dan meningkatkan kontribusi sektor digital terhadap perekonomian nasional.