Wajah Asli Wulan Guritno Dibongkar Netizen, Ini Reaksinya

Jasasosialmedia.com – Nama Wulan Guritno kembali menjadi perbincangan publik. Kali ini, sorotan netizen tertuju pada penampilan wajah sang artis yang ternilai berbeda antara di media sosial dan saat tampil di layar lebar. Isu tersebut mencuat ketika Wulan membintangi film Norma. Beberapa warganet menyebut wajahnya tampak “gradakan” atau tidak sehalus seperti yang biasa terlihat dari unggahan Instagram.

Sebagai figur publik yang sudah puluhan tahun berkecimpung dari dunia hiburan, Wulan Guritno tak menampik bahwa komentar netizen tersebut sempat membuat perasaannya campur aduk. Ia mengaku kaget sekaligus tidak karuan ketika menyadari penampilannya menjadi bahan perbandingan dan perdebatan di media sosial.

Komentar Pedas Netizen Soal Wajah Wulan Guritno

Ya namanya juga manusia, ada perasaan, ungkap Wulan saat membicarakan hal tersebut. Menurutnya, perbedaan tampilan itu bukanlah sesuatu yang sengaja. Ia menjelaskan bahwa kondisi wajah di media sosial tentu sangat berbeda dengan wajah saat syuting film yang menggunakan kamera resolusi tinggi, pencahayaan khusus, serta tuntutan karakter yang harus ia perankan. Wulan menegaskan bahwa dalam film Norma, ia tidak berusaha tampil sempurna. Justru, ia ingin menampilkan sosok yang lebih realistis dan sesuai dengan karakter yang butuhkan. Make up yang minimal, ekspresi emosional, hingga adegan berat membuat wajahnya terlihat lebih apa adanya.

“Kalau di Instagram kan pasti kita pilih foto terbaik, angle terbaik, cahaya terbaik. Tapi di film, semuanya nyata,” ujarnya. Ia pun menambahkan bahwa kamera film bisa menangkap detail yang tidak terlihat oleh mata biasa, termasuk garis halus, tekstur kulit, hingga kelelahan wajah. Meski begitu, Wulan tidak memungkiri bahwa komentar netizen sempat membuatnya insecure. Ia mengaku perlu waktu untuk menenangkan diri dan menerima kenyataan bahwa ekspektasi publik terhadap penampilan artis perempuan memang sangat tinggi. Namun, ia berusaha melihatnya dari sisi yang lebih positif.

Wulan Guritno Insecure Usai Wajah Aslinya Jadi Perbincangan

Bagi Wulan, kejadian ini justru menjadi pengingat bahwa standar kecantikan dari media sosial sering kali tidak realistis. Ia berharap publik bisa lebih bijak dan memahami bahwa apa yang terlihat di layar maupun dunia maya tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya. “Artis juga manusia, bisa capek, bisa menua, dan itu normal,” tegasnya. Wulan pun memilih untuk tidak terlalu larut dalam komentar negatif dan lebih fokus pada kualitas akting serta karya yang ia hasilkan.

Di usia yang semakin matang, Wulan Guritno mengaku kini lebih berdamai dengan sendiri. Ia ingin terkenal bukan hanya karena wajah atau penampilan, tetapi juga karena dedikasi dan profesionalismenya di dunia seni peran. Baginya, kritik adalah bagian dari risiko menjadi figur publik, namun tidak seharusnya menghapus rasa percaya diri seseorang.

Australia Larang Anak Di Bawah 16 Tahun Mengakses Media Sosial

Jasa Sosial Media – Australia membuat gebrakan besar di dunia digital dengan mengumumkan larangan penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan ini menjadi sorotan internasional karena dinilai sebagai langkah paling tegas dalam upaya melindungi anak dari dampak negatif internet yang semakin kompleks. Pemerintah Australia menekankan bahwa dunia digital, meski menawarkan banyak manfaat, kini juga dipenuhi risiko serius yang dapat memengaruhi perkembangan mental dan sosial anak.

Beberapa tahun terakhir, laporan mengenai peningkatan kecemasan, depresi, perundungan siber, dan tekanan sosial pada remaja kian meningkat. Pemerintah menilai bahwa paparan media sosial yang terlalu dini menjadi salah satu pemicunya. Karena itulah, aturan baru disusun tidak hanya sebagai bentuk pembatasan, tetapi sebagai upaya menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan bertanggung jawab.

Salah satu unsur utama dari kebijakan ini adalah kewajiban platform untuk menerapkan sistem verifikasi usia berbasis teknologi. Mekanisme ini harus mampu mengidentifikasi pengguna di bawah umur agar akun mereka dapat dibatasi atau ditutup. Teknologi yang digunakan bisa berupa kecerdasan buatan, pemeriksaan dokumen identitas, hingga analisis data perilaku. Pemerintah berharap langkah ini bisa mencegah anak-anak memalsukan usia demi bergabung dengan platform populer seperti Instagram, TikTok, atau Snapchat.

Namun, di balik dukungan yang cukup besar, kebijakan ini juga mengundang perdebatan luas.

Menuai Dukungan dan Kritik

Meski banyak yang menyambut positif, kebijakan ini juga menghadapi kritik. Sejumlah pihak menilai bahwa pembatasan tersebut dapat:

  • Mengisolasi remaja dari ruang online yang positif,

  • Membatasi kesempatan belajar dan bersosialisasi,

  • Menimbulkan masalah baru terkait privasi akibat penggunaan sistem verifikasi usia.

Kekhawatiran terbesar datang dari para pemerhati privasi digital yang mempertanyakan seberapa dalam data pribadi harus dikumpulkan untuk memverifikasi umur seseorang. Mereka menilai bahwa proses verifikasi berpotensi mengumpulkan informasi sensitif dalam jumlah besar, yang pada akhirnya membuka celah penyalahgunaan data atau pelanggaran keamanan.

Pemerintah Australia menanggapi kritik ini dengan menyatakan bahwa prosedur verifikasi akan dirancang seaman mungkin dan data yang dikumpulkan akan dibatasi hanya pada yang benar diperlukan. Mereka menegaskan bahwa keselamatan anak tetap menjadi prioritas utama, meskipun tantangan teknis dan etika harus terus dipertimbangkan.

Dengan segala pro kontranya, kebijakan ini diprediksi akan menjadi contoh bagi negara lain yang tengah mencari cara melindungi generasi muda di era digital. Waktu akan menunjukkan apakah langkah besar Australia ini benar bisa membawa perubahan positif yang diharapkan.