Harga Beras Rp 60 Rb Di Kementan, Ternyata Salah Ketik Satuan
jasasosialmedia.com – Media sosial kembali riuh. Kali ini, sorotan tajam mengarah pada Kementerian Pertanian (Kementan) setelah beredarnya rincian bantuan bencana dari Sumatera. Angka yang tercantum membuat banyak mata terbelalak: bantuan senilai Rp 1,3 miliar dengan volume yang tertulis 21.874 kg.
Sontak, warganet yang jeli langsung melakukan kalkulasi sederhana. Jika Rp 1,3 miliar terbagi dengan 21.874 kg, hasilnya adalah sekitar Rp 60.000 per kilogram! Sebuah harga yang jauh di atas harga pasar, bahkan untuk beras kualitas premium sekalipun. Tuduhan pun mulai menyeruak, mempertanyakan transparansi dan potensi markup dalam penyaluran bantuan kepada korban bencana.
Permintaan Maaf Menteri Amrand Di Balik Viral Harga Beras
Api kontroversi yang menyala cepat di dunia maya segera terpadamkan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Dalam sebuah konferensi pers, Amran dengan rendah hati menyampaikan permohonan maaf, mengakui adanya kekeliruan fatal yang berujung pada kesalahpahaman publik. “Ini 5 kg. Jadi salah tulis, maafkan aku karena aku manusia biasa, pasti ada khilaf. Tetapi yang terpenting niat merah putih,” ujar Amran, merujuk pada niat tulus Kementan dalam membantu. Amran menjelaskan bahwa angka 21.874 yang tertera bukanlah volume total beras dalam satuan kilogram (kg), melainkan jumlah paket beras yang salurkan.
“Nah ini penting ada kekeliruan itu, keliru dalam penulisan yang katakan 21.000 itu, 21.000 kilogram. (Angka) 21.000 itu seharusnya 21.000 paket, satu paket berisi 5 kg,” jelasnya. Dengan klarifikasi ini, perhitungan warganet yang menghasilkan harga fantastis Rp 60.000/kg pastikan keliru. Kesalahan satu huruf mengganti ‘paket’ menjadi ‘kg’ telah mengubah persepsi publik secara drastis, dari bantuan kemanusiaan menjadi dugaan praktik mark up yang mencurigakan.
Membongkar Kesalahan Administrasi Kementan
Mengetahui unggahan tersebut menjadi viral dan memicu keresahan, Menteri Amran tidak tinggal diam. Ia mengaku segera bertindak cepat, bahkan dari tengah malam. “Tengah malam aku telepon Sekjen dua. Bahayanya salah tulis saja, salah satuannya. Gimana menyampaikan ke semua orang. Jadi sampaikan dengan cepat bahwa satuannya salah,” tuturnya, menceritakan koordinasi dengan Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, dan Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, untuk segera memberikan klarifikasi. Respons cepat ini menunjukkan keseriusan Kementan dalam menjaga integritas dan transparansi, serta memitigasi dampak dari kesalahan administrasi.
Kisah “salah ketik senilai miliaran” ini menjadi pengingat penting bagi institusi publik. Di era digital, di mana informasi dapat menyebar dalam hitungan detik, detail terkecil dalam laporan resmi bisa menjadi pemicu kontroversi besar. Kehati-hatian dalam penulisan administrasi adalah krusial, terutama ketika menyangkut dana publik dan bantuan kemanusiaan. Di sisi lain, reaksi cepat Menteri Amran yang mengakui kesalahan dan memberikan klarifikasi transparan patut terapresiasi. Seringkali, respons yang terlambat atau defensif justru memperkeruh suasana. Dengan lugas mengatakan, “maafkan aku karena aku manusia biasa,” Amran menunjukkan sikap bertanggung jawab yang harapkan dari seorang pemimpin.