Perpustakaan Modern Digital Tren Literasi Mahasiswa Masa Kini

Jasasosialmedia.com – Siang itu, di kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, suasana perpustakaan terasa berbeda dari hiruk pikuk dunia perkuliahan. Di lantai dua, di antara rak buku tebal dan bangku melingkar, beberapa mahasiswa tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Ada yang serius mengetik laporan, ada yang membaca sambil mencatat di pinggir halaman, dan ada pula yang sekadar menikmati ketenangan berac dari tengah kesibukan kampus. Salah satunya adalah Fereel Irsyad, mahasiswa KPI semester tujuh.

Duduk dari depan laptop, sesekali ponselnya bergetar. “Kadang susah fokus kalau HP di samping,” katanya sambil tertawa. Namun, ia menambahkan, “Di sini rasanya lebih tenang. Apalagi pada perpustakaan, memang tidak boleh berisik.”Bagi mahasiswa seperti Fereel, perpustakaan bukan sekadar tempat mencari referensi. Ia adalah ruang sunyi untuk menata pikiran, mencari ide, atau menenangkan diri dari derasnya notifikasi digital. “Awalnya ke sini hanya untuk tugas, tapi lama jadi kebiasaan. Kalau belum mampir ke sini seharian, rasanya ada yang kurang,” ujarnya.

Paradoks Literasi Dari Era Digital Saat Ini

Ironisnya, di era digital yang serba cepat ini, budaya membaca dan menulis justru kian terpinggirkan. Banyak mahasiswa mengandalkan ringkasan, video singkat, atau bantuan AI untuk memperoleh informasi. Padahal, literasi bukan sekadar membaca teks, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan selektif terhadap informasi. Secara nasional, literasi Indonesia masih menghadapi tantangan serius. Data UNESCO menunjukkan tingkat melek huruf orang dewasa sekitar 96 persen.

Namun, survei Central Connecticut State University (CCSU) menempatkan Indonesia di peringkat 60 dari 61 negara dalam hal kebiasaan membaca dan menulis. PISA 2022 menunjukkan skor literasi membaca siswa Indonesia hanya sekitar 359 poin, jauh di bawah global. Buku kini sering menjadi simbol tren yang dipamerkan di media sosial, bukan alat untuk belajar. Fereel pun menyoroti fenomena ini: “Sekarang banyak yang beli buku hanya untuk tampil keren di story. Tapi sebenarnya itu bisa jadi langkah awal buat mulai suka baca.”

Perpustakaan Beradaptasi Dengan Tren Baru

Menjawab perubahan ini, beberapa perpustakaan mulai bertransformasi. Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ruang baca kini lebih terbuka dan nyaman. Ada area diskusi estetik, tempat lesehan santai, hingga akses ejournal yang mudah terjangkau. Perpustakaan tidak lagi kaku, melainkan menjadi ruang untuk selfdevelopment sekaligus ekspresi diri. Sore menjelang, cahaya oranye menembus jendela besar. Beberapa mahasiswa berkemas, sebagian masih tenggelam dalam catatan.

Fereel menutup bukunya, menyelipkan pembatas halaman, dan tersenyum kecil. “Kadang kalau di perpustakaan, muncul inspirasi yang bikin kita tumbuh dan berkembang,” ucapnya. Di tengah arus tergitalisasi, dunia digital bukan musuh literasi, melainkan mitra yang bisa termanfaatkan bijak. Kemudahan akses informasi harus barengi kemampuan memilih dan mencerna. Literasi di era digital kini bukan soal jumlah halaman yang baca, tapi seberapa dalam makna yang dipahami dari setiap bacaan.